Allah di Atas Langit atau Dimana-mana?[3] Makna Arah Atas dan Tempat


Dimanakah Allah berada? di atas langit atau di mana-mana?, setidaknya dengan dua artikel sebelumnya Allah di Atas Langit atau di Mana-mana?[1] Al-Qur'an Dan As-Sunnah Menjawab dan Allah di Atas Langit Atau Dimana Mana?[2] Para Nabi Dan Para Sahabat Rasul Menjawab kita sudah memiliki jawabannya,.

Sebelum menyebutkan tentang penukilan ijma para ulama, dan dalil dari akal dan fitroh, mungkin perlu di sebutkan terlebih dahulu makna جهة jihah "arah" dan مكان makaan "tempat" yang disandarkan kepada Allah agar tidak terjadi kesalahpahaman, karena memang dua lafadz ini tidak terdapat dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Oleh karena itu kita tidak bisa menetapkan lafadz (kata) ini bagi Allah secara mutlak tidak pula menafikannya secara mutlak, tapi butuh perincian apa yang pembicara maksudkan atau inginkan dengan perkataannya tersebut karena nama dan sifat Allah tidaklah bisa ditetapkan kecuali dengan dalil. 

Adapun perincian jihah (arah) yang disandarkan kepada Allah sebagaimana berikut:

dimakah allah berada, dimana-mana diatas langit1. Apabila yang di maksudkan dengan arah adalah jihatu sulfa (arah bawah), maka hal ini dinafikan dari Allah, dan tertolak dari-Nya. Dikarenakan telah tetap ketinggian mutlak bagi Allah ta’ala baik ketinggian dzat ataupun ketinggian sifat. 

2. Apabila yang maksudkan dengan arah adalah jihatu uluw (arah tinggi) yang Allah diliputi dengannya, maka hal ini dinafikan dari Allah dan tertolak dari-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Agung dan Mulia untuk bisa diliputi sesuatu dari makhluk-Nya. Dan sungguh tidak mungkin karena kursi Allah saja seluas langit dan bumi.

“dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. [Az-Zumaar: 67]

3. Apabila yang maksudkan dengan arah adalah jihatu uluw (arah atas) yang layak dan sesuai dengan keagungan Allah yang allah tidak diliputi dengannya, maka hal ini benar dan Allah bersifat dengan al-uluw (ketinggian). (Fathu Robbil Bariyah Syaikh Al-Utsaimin hal bab ke-9)

Adapun perincian mengenai makaan (tempat) yang disandarkan kepada Allah:

1. Apabila yang dimaksudkan dengan ‘tempat’ adalah yang melingkupi sesuatu; maka hal ini dinafikan dari Allah, karena tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang dapat melingkupi-Nya. Allah MAHA Besar. 

2. Apabila yang dimaksudkan dengan 'tempat' ini adalah amrun 'adamiyyun (tidak berwujud) yakni berbeda dengan yang ada di alam ini dan berada di luar alam dan di luar makhluk maka ini tidak bisa dinafikan.

3. Apabila yang dimaksudkan dengan ‘tempat’ adalah tempat yang Allah butuh kepadanya sebagaimana makhluk butuh kepada tempat, maka penisbatan tersebut pada Allah sungguh tidak layak.

4. Apabila yang dimaksudkan dengan tempat itu adalah keberadaan Allah di atas langit dan beristiwaa' di atas 'Arsy-Nya dalam makna hakiki - sebagaimana perbuatan Rasulullah dalam haji wada demikian pula 'Umar bin Al-Khaththaab yang menunjuk ke arah atas - maka makna ini benar.

5. Apabila penolakan tempat atau arah adalah untuk menolak keberadaan Allah di atas langit di atas ‘Arsy-Nya secara hakiki maka ini keliru.


Penekanan penjelasan tentang arah atas atau ketinggian Allah di atas langit:

1. Arah atas atau tinggi yang sandarkan kepada Allah adalah ketinggian mutlak, bukan ketinggian relatif, apa ketinggian mutlak? Ketinggian mutlak adalah ketinggian ke arah atas, dan tentu kita tahu bahwa sesuatu jika semakin ke arah atas maka ia akan semakin tinggi, Maka Allahlah yang Maha Tinggi di atas segala sesuatu tersebut tidak ada lagi yang lebih tinggi dari-Nya.

Lalu apa ketinggian relatif?, ketinggian relatif adalah ketinggian yang jika disandarkan atau dibandingkan dengan sesuatu yang lain, ia lebih tinggi tapi jika disandarkan kepada yang lebih tinggi maka ia disebut lebih rendah atau berada dibawahnya. Contoh: gedung berlantai empat itu TINGGI, tapi ketika kita bandingkan dengan gedung berlantai tujuh tentu ialah yang tinggi atau lebih tinggi dibandingkan lantai empat atau gedung berlantai empat. Dan ketinggian Allah bukanlah ketinggian relatif tapi ketinggian mutlak

2. Sesuatu yang ada (wujud) itu hanya dua yaitu Al-Kholiq (Allah) dan Makhluk (seluruh alam semesta) jika yang dimaksudkan dengan arah atau tempat adalah amrun maujud (berwujud) selain Allah maka ia adalah makhluk, dan tiada sesuatu pun dari kalangan makhluk yang meliputi-Nya atau membatasi-Nya, Maha Suci Allah dari hal tersebut, 

Dan jika yang dimaksudkan dengan arah dan tempat adalah amrun adamiy (tidak berwujud) yakni diluar alam maka tidak ada disana kecuali Allah semata. Jadi jihah bukanlah sesuatu yang berwujud akan tetapi ia adalah sebuah ungkapan, dan tidak diragukan lagi bahwa jihaat (arah-arah) tidak memiliki penghujung dan sesuatu yang tidak di temukan pada sesuatu yang tidak memiliki batasan atau penghujung maka perkara tersebut adalah tidak berwujud.

Dan Allah tidak diliputi oleh arah yang enam, yaitu allah tidak diliputi sesuatu apapun dari makhluk-Nya, tapi Allah lah yang meliputi segala sesuatu dan berada di luar dan di atas itu semua. 

3. Jadi jangan dibayangkan kalau Allah berada disebuah ruang hampa di atas langit ke tujuh atau bertempat di atas langit ketujuh, karena ruang hampa dan tempat termasuk makhluk dan Allah berada diluar alam semesta di luar makhluk-Nya dan di atas itu semua.

4.Lalu apa maksud ulama-ulama ahlu sunnah wal jama’ah bahwa Allah berada fi jiahti uluw (di arah atas) atau di ketinggian? Maksudnya adalah Allah berada di atas langit di atas arsy-Nya sebagaimana dikabarkan alqur’an dan hadis dan berada di arah atas seluruh makhluk-Nya di luar alam semesta. (lihat penjelasan Imam Ath-Thohawiy dalam syarah aqidah ath-thohawiyah hal 265-266 dan Ibnu Rusyd dalam Al-Kasyf ‘an manhaj Al-Adillah hal 145-147)


Penjelasan Imam Ahmad untuk memudahkan pemahaman

Beliau mengatakan:

"Jika engkau ingin tahu bahwasanya Jahmiy adalah seorang pendusta tatkala menyangka bahwasanya Allah di semua tempat bukan pada satu tempat tertentu, maka katakanlah : Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?. Maka ia akan menjawab : Iya.

Katakan lagi kepadanya, "Tatkala Allah menciptakan sesuatu apakah Allah menciptakan sesuatu tersebut dalam dzat Allah ataukah di luar dzat Allah?". Maka jawabannya hanya ada tiga kemungkinan, dia pasti memilih salah satu dari tiga kemungkinan tersebut.

Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah.

Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakannya di luar dzat Allah kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya maka ini juga merupakan kekufuran tatkala ia menyangka bahwasanya Allah masuk di setiap tempat dan wc dan setiap kotoran yang buruk.

Jika ia mengatakan bahwasanya Allah menciptakan mereka di luar dzatnya kemudian tidak masuk dalam mereka maka ia (si jahmiy) telah meninggalkan seluruh aqidahnya dan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah" (Ar-Rod 'alaa Al-Jahmiyyah wa az-Zanaadiqoh hal 155-156)

Sikap terhadap lafadz makaan (tempat) dan jihah (arah) yang disandarkan kepada Allah

1.Secara Lafadz keduanya adalah lafadz yang baru yang dinisbatkan kepada Allah, tidak terdapat penisbatan seperti ini dalam alquran maupun hadis

2.Secara Makna kedua lafadz ini perlu dirinci apa maksud sang pembicara, apakah maknanya benar (menetapkan sifat ketinggian bagi Allah) atau salah (menafikan atau meniadakan sifat uluw bagi Allah)

3. Karena kedua lafadz ini umum, global dan memiliki kemungkinan-kemungkinan makna maka memutlakkannya atau menyebutkannya begitu saja tanpa penjelasan, dikhawatirkan akan mengesankan adanya kontradiksi dengan dalil-dalil sifat uluw, atau bahkan sampai menafikan sifat uluw (tinggi) bagi Allah yang sudah ditetapkan sekian banyak dalil baik dalam alqur’an, hadis, para rasul dan sahabat, ijma ulama, akal dan juga fitroh, sehingga menggunakan lafadz-lafadz syar’i tentu lebih utama. (lihat penjelasan Imam Ath-Thohawiy dalam syarah aqidah ath-thohawiyah hal 265-266)