Allah di Atas Langit Atau Dimana Mana? [2] Para Nabi Dan Para Sahabat Rasul Menjawab


Adalah perkara yang sudah jelas dan gamblang tentang keyakinan bahwasanya Allah berada diatas langit, terpisah dengan makhluk-Nya dan tidak ada sesuatu apapun yang meliputi-Nya. Bahkan hal ini sudah menjadi kesepakatan para nabi dan rasul dan para sahabat serta orang orang yang mengikuti mereka dengan baik. Akan tetapi permasalahan ini kini menjadi memusingkan dan runyam dengan masuknya ilmu kalam dan filsafat kedalam agama ini. Jadi, yang awalnya sangat sederhana dan mudah dipahami bahkan oleh seorang budak wanita dizaman Rasul, mengharuskan adanya penjelasan-penjelasan dan perincian-perincian yang membutuhkan keseriusan untuk dapat memahaminya karena banyaknya syubhat yang ada. 

Pembaca,,, rahimakumullah. Setelah sebelumnya disebutkan tentang berbagai macam dilalah sisi penunjukan dari alquran dan as-sunnah mengenai ketinggian Dzat Allah diatas langit, insyaAllah kali ini akan dilanjutkan dengan dalil-dalil berupa ijma' dari kalangan para nabi dan rasul serta para sahabat ridwanullah 'alaihim ajma'in

Adapun dari ijma', maka sesungguhnya ada beberapa ijma' (kesepakatan) yang bisa dirinci sebagaimana berikut:

Ijma' Para Nabi 'alaihimus sholatu was salam

Pertama: Sayyidina Muhammad shallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana riwayat Muslim [1218]
Ketika berkumpulnya manusia di Arafah pada khutbah haji wada', beliau bertanya: "Kalian semua akan ditanya mengenai diriku, lalu bagaimana nanti jawab kalian?”. Mereka menjawab “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan dan menunaikan tugas serta menasehati kami". Di saat itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jarinya kearah langit sambil menjawab, “Ya Alloh saksikanlah, Ya Alloh saksikanlah, Ya Alloh saksikanlah”

Kedua: Nabi Isa 'alaihis salam ketika meminta hidangan (al-maidah) dari langit

قال تعالى: {إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (112) قَالُوا نُرِيدُ أَنْ نَأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَنْ قَدْ صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ (113) قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآَخِرِنَا وَآَيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيرُ الرَّازِقِينَ (114) قَالَ اللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِين


112. (ingatlah), ketika Pengikut-pengikut Isa berkata: "Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?". Isa menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman".
113. mereka berkata: "Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati Kami dan supaya Kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada Kami, dan Kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu".
114. Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan Kami turunkanlah kiranya kepada Kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi Kami Yaitu orang-orang yang bersama Kami dan yang datang sesudah Kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah Kami, dan Engkaulah pemberi rezki yang paling Utama".
115. Allah berfirman: "Sesungguhnya aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, Barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), Maka Sesungguhnya aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia".

Ketiga: Nabi Musa 'alaihis salam berkeyakinan bahwa Allah ada diatas langit, akan tetapi Fir'aun mengingkari hal tersebut. Hal ini sebagaimana Allah kisahkan dalam alqur'an:

“Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta. Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’un itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.” (QS. Ghafir/Al Mu’min: 36-37)

Ijma' Para Sahabat Radhiyallahu 'anhum

Pertama: Sahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu ketika beliau datang untuk melihat ‘Aisyah radiyallahu 'anha yang baru saja wafat. Ibnu Abbas berkata padanya,

كنت أحب نساء رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يكن يحب إلا طيبا وأنزل الله براءتك من فوق سبع سموات

“Engkau adalah wanita yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah engkau dicintai melainkan kebaikan (yang ada padamu). Allah pun menurunkan perihal kesucianmu dari atas langit yang tujuh.” [1]

Beliau juga berkata tentang firman Allah: 


ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ


Kemudian akan aku datangi dari arah depan mereka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur (taat).

Iblis tidak mampu untuk mengatakan dari atas, karena iblis tahu bahwasanya Allah berada diatas mereka"[2]

Beliau juga berkata:

ينادي مناد بين يدي الساعة أتتكم الساعة - فيسمعه الأحياء والأموات - ثم ينزل الله إلى السماء الدنيا

“Ketika hari kiamat ada yang menyeru, “Apakah datang pada kalian hari kiamat?” Orang yang hidup dan mati pun mendengar hal tersebut, kemudian Allah pun turun ke langit dunia.” [3]

Beliau juga berkata:

إذا نزل الوحي سمعت الملائكة صوتا كصوت الحديد

“Jika wahyu turun, aku mendengar malaikat bersuara seperti suara besi.”[4]
yang namanya turun adalah dari atas ke bawah sehingga ini menunjukkan Sang Pemberi Wahyu (Allah ta'ala) ada diatas.
dalil tentang allah ada dimana
Kedua: Ummul Mukminin Zainab Bintu Jahsin radhiyallahu 'anha, diriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu bahwa dahulu Zainab beliau berbangga atas istri-istri Nabi yang lain dengan mengatakan “Kalian dinikahkan oleh keluarga-keluarga kalian, sedangkan aku dinikahkan oleh Allah yang berada di atas langit ketujuh.”[5]

Ketiga: Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu berkata: "Al-Arsy berada diatas air dan Allah berada diatas arsy, dan tidak samar atas-Nya sesuatu pun dari amalan-amalan kalian"[6]

Keempat: Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Demi Allah sungguh aku sangat takut, seandainya aku senang dengan terbunuhnya (utsman), aku akan membunuhnya, akan tetapi Allah yang berada diatas arsy-Nya tahu bahwa aku tidak senang dengan terbunuhnya (utsman)" [7]

Kelima: Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma membenarkan seorang pengembala yang meyakini Rabbnya di atas langit.
Dalam hadits Zaid bin Aslam, dia berkata: “(Suatu saat) Ibnu ‘Umar melewati seorang pengembala. Lalu beliau berkata, “Adakah hewan yang bisa disembelih?” Pengembala tadi mengatakan, “Pemiliknya tidak ada di sini.” Ibnu Umar mengatakan, “Katakan saja pada pemiliknya bahwa ada serigala yang telah memakannya.” Kemudian pengembala tersebut menghadapkan kepalanya ke langit. Lantas mengajukan pertanyaan pada Ibnu Umar, ”Lalu di manakah Allah?”Ibnu ‘Umar malah mengatakan, “Demi Allah, seharusnya aku yang berhak menanyakan padamu ‘Di mana Allah?’.

Kemudian setelah Ibnu Umar melihat keimanan pengembala ini, dia lantas membelinya, juga dengan hewan gembalaannya (dari Tuannya). Kemudian Ibnu Umar membebaskan pengembala tadi dan memberikan hewan gembalaan tadi pada pengembara tersebut.[8]

Keenam: Humaid bin Tsaur Al-Hilaly. Diriwayatkan dari Az-Zubair bin Bakkar dari ayahnya bahwasanya Humaid bin Tsaur diutus ke beberapa orang dari kalangan Bani Umayyah, maka dikatakan kepadanya: " Apa yang membuatmu datang kesini?" Beliau menjawab: "Allah yang berada diatas arsy-Nya yang membuatku datang kepadamu".[9]

Serta seluruh para sahabat yang membawakan semua hadis-hadis Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam terkait ketinggian Dzat Allah di atas langit dengan berbagai jenis periwayatan baik itu yang qoul (ucapan), fi'li (perbuatan) atau taqrir (ketetapan) dari Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam. Karena tentu para sahabat memahami sabda Rasul dengan sebaik-baik pemahaman dan meyakininya dengan seyakin-yakinnya, baru setelah itu menyampaikannya.

Na'am, Pembaca a'azzakumullah,,, demikianlah keyakinan sebaik-baik makhluk tentang keberadaan Allah diatas langit dan InsyaAllah untuk ijma' (konsensus) lainnya akan disambung di kesempatan berikutnya, biidznillah. Allahul Musta'an wa 'Alaihi Tiklaan 


Catatan Kaki:
_________________________________________________________________________________
[1] Diriwayatkan oleh Ad Darimy dalam Ar-Rod 'Ala Al-Jahmiyah, dengan sanad yang hasan, lihat juga Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 335
[2] Diriwayatkan oleh Al-Lalikaiy dalam syarah usul as sunnah dengan sanad yang hasan
[3] Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 296. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Mukhtashor Al ‘Uluw no. 94, hal. 126 bahwa sanad riwayat ini shahih sesuai syarat Muslim
[4] Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 295. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Mukhtashor Al ‘Uluw no. 93, hal. 126 bahwa periwayat hadits ini tsiqoh (terpercaya)
[5] HR. Bukhori no. 7420, lihat juga Al ‘Uluw, hal. 186 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 202.
[6] Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Asma' wa Shifat dengan sanad yang hasan
[7] Dikeluarkan oleh Ad Darimy dalam Ar-Rod 'Ala Al-Jahmiyah, dengan sanad yang shohih 
[8] Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar no. 311. Syaikh Al Albani dalam Mukhtashor Al ‘Uluw no. 95, hal. 127 mengatakan bahwa sanad riwayat ini jayyid
[9] Tarikh Al-Islami Hawadits wa Wafiyat 60-81 H hal.111