Allah di Atas Langit atau di Mana-mana???[1] Al-Qur'an Dan As-Sunnah Menjawab


Ketika masih kecil dulu biasa terdengar dari orang-orang tua atau orang-orang awam ucapan "serahkan saja sama Yang diatas", atau "biar Yang diatas aja yang balas" atau ”rezeki itu sudah diatur sama Yang diatas” dan yang semisalnya yang menunjukkan keyakinan bahwa dzat Allah ada diatas langit, tapi kini semakin banyak orang yang mulai meragukan hal tersebut atau bahkan tegas menyatakan bahwa dzat Allah itu ada dimana mana, bahkan sampai ada ucapan Anjinghu Akbar karena Allah ada pada anjing juga, demikian alasan mereka,,, yakni ujung ujungnya mengarah kepada keyakinan wihdatul wujud (bersatunya dzat Allah dengan makhluknya) Subhaanahu wa ta'ala 'amma yashifuun Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.

Pembaca rahimakumullah,,, pembahasan tentang sifat Al Uluw bagi Allah adalah pembahasan yang sangat mendasar (urgent) dalam aqidah keyakinan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, oleh sebab itulah tidaklah ada kitab para ulama yang membahas Asma' Was Sifat kecuali ia akan menyertakan pembahasan ini, dan bagi yang menyelisihi keyakinan ini maka ia teranggap telah keluar dari lingkaran Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.

Perlu diketahui bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala memilki ketinggian sifat dan ketinggian dzat, ketinggian sifat maknanya adalah tidaklah ada satu pun dari sifat sifat kesempurnaan melainkan bagi Allah sajalah sifat yang tertinggi dan paling sempurnanya. baik itu sifat kemuliaan dan kekuatan atau sifat keindahan dan kekuasaan. Adapun ketinggian dzat maknanya adalah Allah subhanahu wa ta'ala dzatNya berada diatas seluruh makhluknya, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh alqur'an, hadis, ijma', akal dan juga fitroh

Adapun dalil dari alqur'an dan hadis maka sesungguhnya keduanya dipenuhi dengan pernyataan yang tegas, atau dzohir (tampak jelas) tentang penetapan ketinggian dzat Allah ta'ala diatas makhluknya dengan berbagai macam sisi dilalah (penunjukan) yang mana masing-masing sisi ini memiliki dalil dalil yang banyak.

Na'am, sisi penunjukan (bahwa Allah dzatNya berada diatas langit) yang...

Pertama: Dalil tegas yang menyatakan Allah berada di atas (dengan menggunakan kata fawqo dan diawali huruf min). Pada firman Allah,

 يَخَافُونَ رَبَّهُم مِن فَوْقِهِمْ‎ 

“Mereka takut kepada Rabb mereka yang (berada) di atas mereka.” (QS. An Nahl : 50)


Kedua: Dalil tegas yang menyatakan Allah berada di atas (dengan menggunakan kata fawqo, tanpa diawali huruf min). Pada firman Allah Ta’ala,

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

“Dan Dialah yang berkuasa berada di atas hamba-hambaNya.” (QS. Al An’am : 18, 61)

Secara Bahasa perbedaan antara فوق pertama dan kedua, kalau yang menggunakan من , maka maknanya tidak bisa ditakwil (dialihkan dari makna awal) dan ia hanya bermakna diatas dari segi posisi, bukan derajat. Dan gaya bahasa seperti ini banyak dalam Al-Qur'an, semisal:

فَخَرَّ عَلَيْهِم السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ 

"lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas" (QS An-Nahl 26) 

يوم يغشاهم العذاب مِنْ فَوقِهِمْ ومن تحت أرجلهم 

"Pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki-kaki mereka" (QS Al-'Ankabuut : 55)

Adapun yang tidak menggunakan من maka bisa ditakwil kepada makna diatas dari segi derajat, semisal ucapan الذهب فوق الفضة emas diatas perak, bisa jadi maknanya emas posisinya ditaruh diatas perak atau bisa juga bermakna emas lebih mahal dari perak (diatas dari segi harga/derajat). Akan tetapi hukum asal untuk kalimat jenis kedua ini adalah dipahami secara dzohir (berada diatas) terlebih lagi jika dinisbahkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Selain itu kalaupun dimaknakan sebagai ketinggian kemuliaan Allah maka masih banyak dalil-dalil lain yang menunjukkan ketinggian posisi dzat Allah.


Ketiga: Dalil tegas yang menyatakan sesuatu naik kepada-Nya (dengan menggunakan kata عرج dan pecahannya).
Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabbnya.” (QS. Al Ma’arij : 4)

dan dalam sebuah hadis Nabi shallahu 'alaihi wa sallam

يتعاقبون فيكم ملائكة بالليل وملائكة بالنهار ويجتمعون في صلاة الصبح وصلاة العصر ثم يعرج الذين باتوا فيكم فيسألهم الله – وهو أعلم بهم – كيف تركتم عبادي؟ فيقولون تركناهم وهو يصلون

“Para Malaikat dimalam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat” (Muttafaqun ‘alaihi)


Keempat: Dalil tegas yang menyatakan sesuatu naik kepada-Nya (dengan menggunakan kata صعد dan pecahannya). Seperti firman Allah Ta’ala,

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik.” (QS. Fathir: 10)

Terdapat pula contoh dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Umar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِتَّقُوْا دَعْوَةَ المَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تَصْعُدُ إِلَى اللهِ كَأَنَّهَا شَرَارَةٌ


“Berhati-hatilah terhadap do’a orang yang terzholimi. Do’anya akan naik (dihadapkan) pada Allah bagaikan percikan api.” (HR. Hakim)

Yang dimaksud dengan ‘bagaikan percikan api’ adalah cepat sampainya (cepat terkabul) karena do’a ini adalah do’a orang yang dalam keadaan mendesak. (Faidul Qodir Syarh Al Jaami’ Ash Shogir, Al Munawi, 1/184)


Kelima: Dalil tegas yang menyatakan sebagian makhluk diangkat kepada-Nya (dengan menggunakan kata رفع). Sesuatu yang diangkat kepada Allah pasti menunjukkan bahwa Allah berada di atas sana. Allah Ta’ala berfirman,


بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ

“Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya .. ” (QS. An Nisa’ : 158)

Juga firman Allah Ta’ala,

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku.” (QS. Ali Imron: 55)


Keenam: Dalil tegas yang menyatakan ‘uluw (ketinggian) Allah secara mutlak. ‘Uluw (ketinggian) Allah ini mencakup ketinggian secara dzat (artinya Dzat Allah berada di atas), qodr (artinya Allah Maha Tinggi dalam Kehendak-Nya), dan syarf (artinya Allah Maha Tinggi dalam sifat-sifat-Nya). Seperti firman Allah Ta’ala (pada ayat kursi),

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqarah : 255)

Begitu pula dalam ayat,

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Saba’ : 23)

إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Asy Syura: 51)

Juga kita sering mengucapkan dzikir berikut ketika sujud,

سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى

“Maha suci Rabbku Yang Maha Tinggi.” HR. Muslim no. 772

Dalil-dalil yang menyatakan Allah ‘Maha Tinggi’ di sini sudah termasuk menyatakan bahwa Allah Maha Tinggi secara Dzat-Nya yaitu Allah berada di atas.


Ketujuh: Dalil yang menyatakan Al Kitab (Al Qur’an) diturunkan dari sisi-Nya. Sesuatu yang diturunkan pasti dari atas ke bawah. Firman Allah Ta’ala yang menjelaskan hal ini,

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

“Kitab (Al Qur’an ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Az Zumar: 1)

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Diturunkan Kitab ini (Al Quran) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ghafir: 2)

تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 2)

تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilat: 42)

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ

“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar.” (QS. An Nahl: 102)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan : 3)



Kedelapan: Dalil tegas yang mengkhususkan sebagian makhluk dikatakan berada di sisi Allah dan dalil yang menunjukkan sebagian makhluk lebih dekat dari yang lainnya. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ

“Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu.” (QS. Al A’rof: 206)

Begitu pula contohnya dalam firman Allah Ta’ala,

وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ عِنْدَه

“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya.” (QS. Al Anbiya’: 19)

Berbeda antara kalimat “لَهُ مَنْ/مَنْ لَهُ” yang menunjukkan kepunyaan Allah secara umum (segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi) dan kalimat “مَنْ عِنْدَهُ” yang menunjukkan malaikat dan hamba-Nya yang berada khusus di sisi-Nya.

Contoh lainnya lagi adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ ، فَهْوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِى غَلَبَتْ غَضَبِى

“Ketika Allah menetapkan ketentuan bagi makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya: Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku. Kitab tersebut berada di sisi-Nya di atas ‘Arsy.” HR. Bukhari no. 3194 dan Muslim no. 2751.

Pembaca Rahimakumullah,,, mungkin ada isykal (keganjilan) atau ada yang bertanya, "katanya Allah ada diatas seluruh makhluk-Nya, tapi kenapa pada hadis pertama dikatakan para malaikat disisi-Nya dan pada hadis kedua dikatakan kitab ada disisi-Nya? bukannya disisi itu mengandung makna sejajar, sama tinggi???".

Ketauhilah Ikhawany fiddien, bahwa tidak ada satu permasalahan pun dalam agama ini kecuali sudah ada dari kalangan para ulama yang menjelaskannya, tinggal bagaimana kita mau untuk mencarinya atau tidak. Adapun permasalahan ini sudah dijelaskan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bary. Beliau menerangkan bahwa ada yang berpendapat makna kalimat tersebut adalah dibawah/lebih rendah jadi artinya "berada di sisi-Nya di bawah ‘Arsy" sebagaimana firman allah:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَن يَضْرِبَ مَثَلاً مَّا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيراً وَيَهْدِي بِهِ كَثِيراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِينَ

"Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan:”Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik" QS. Al-Baqarah: 26.

penafsiran ini timbul dari pendapat "tidak mungkin ada makhluk yang lebih tinggi dari arsy", akan tetapi sebenarnya tidak masalah untuk membiarkan sebagaimana dzohirnya karena arsy juga makhluk.. Dan ada kemungkinan juga yang diinginkan dengan فَهْوَ عِنْدَهُ "dan ia disisi-Nya" adalah penyebutannya atau ilmunya (yakni ilmu/pengetahuan tentang isi kitab itu ada disisi Allah, hanya Allah yang tahu) sehingga bukan dimaknakan "disamping/sejajar". Hal ini menunjukkan sangat ter-rahasia-nya perkara ini dari makhluk-Nya. Ada juga yang berpendapat bahwa kata tersebut hanya "tambahan" yang tidak memiliki makna, tapi pendapat ini kurang tepat, karena yang namanya "tambahan" kalau dibuang, tidak akan merubah atau merusak makna. Sedangkan pada kalimat ini tidak demikian.

Selain itu, untuk hadis bahwa para malaikat ada disisi-Nya dijelaskan lagi oleh ayat yang tegas menyatakan:

 يَخَافُونَ رَبَّهُم مِن فَوْقِهِمْ‎ 

“Mereka takut kepada Rabb mereka yang (berada) di atas mereka.” (QS. An Nahl : 50)

Dan kata مِن فَوْقِهِمْ tidak bisa ditakwil.


Kesembilan: Dalil tegas yang menyatakan Allah فِي السَّمَاءِ .
Menurut Ahlus Sunnah, maksud فِي السَّمَاءِ di sini ada dua:

1) فِي di sini bermakna عَلَى (diatas). Sehingga makna فِي السَّمَاءِ adalah عَلَى السَّمَاءِ diatas langit.

2) السَّمَاءِ di sini bermakna ketinggian (العُلُو). Sehingga makna فِي السَّمَاءِ adalah فِي العُلُو di ketinggian.
Dua makna ini tidaklah bertentangan dan tidak boleh memaknakan selain dari kedua makna ini oleh sebab itu tidak ada ulama yang memaknakan Allah didalam langit.
Hal ini sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di (atas) langit (QS. Al Mulk : 16)

Lafadz السَّمَاءِ yang diinginkan disini adalah langit yang biasa kita lihat sehari hari, sehingga makna فِي disini adalah  عَلَى (diatas). Allah juga berfirman tentang ucapan fir'aun

وَ لَأُصَلِبَنَّكُم فِي جُذُوعِ النَخل

"dan sungguh aku akan menyalib kalian di cabang pohon kurma' (QS. Thaha : 71)

Huruf فِي yang biasanya bermakna dzorof (didalam) disini dimaknakan عَلَى diatas karena kalau diartikan didalam, maka tidak mungkin orang tersebut ada didalam pohon, dan tentu bukan disalib namanya. dalam sastra bahasa arab ini diistilahkan dengan majas Isti’arah tabaiyyah.
Demikian pula pada ayat ini:

قُلْ سِيرُوا فِي اْلأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Katakanlah: “Berjalanlah di atas muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”. (QS. Al-An’aam: 11).

Dan terkadang السَّمَاءِ bermakna al 'uluw (ketinggian) karena segala sesuatu yang ada diatasmu disebut سَمَاء semisal bagian atas rumah disebut juga سَمَاء (langit langit).

Kesimpulannya, makna فِي tergantung dengan konteksnya, yang semisal dengan ini juga terdapat dalam hadits-hadis Nabi shallahu 'alaihi wa sallam,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Ar Rahman. Sayangilah penduduk bumi, niscaya (Rabb) yang berada di atas langit akan menyayangi kalian. ” HR. Abu Daud no. 4941 dan At Tirmidzi no. 1924

أَلاَ تَأْمَنُوْنِيْ وَأَنَا أَمِيْنُ مَنْ فيِ السَّمَاءِ

"Tidakkah kalian mempercayaiku padahal aku dipercaya oleh Dzat yang di atas langit. (HR.Bukhari 4351 dan Muslim 1064)


Kesepuluh: Dalil tegas yang menyatakan bahwa Allah beristiwa’ (tinggi) di atas ‘Arsy. ‘Arsy adalah makhluk Allah yang paling tinggi. Contoh ayat tersebut adalah,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah. Yang beristiwa' (tinggi) di atas ‘Arsy .” (QS. Thoha : 5)

dan di dalam alquran ada 7 (tujuh) ayat  yang menyatakan bahwasanya Allah beristiwa' diatas 'Arsy Nya
Al A'rof: 45, Yunus: 3, Ar Ra'du: 2, Thoha: 5, Al Furqon: 59, As Sajdah: 4, Al Hadid: 4.


Kesebelas: Dalil yang menunjukkan disyariatkannya mengangkat tangan ketika berdo’a. Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

“Sesungguhnya Rabb kalian –Tabaroka wa Ta’ala- Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu pada hamba-Nya, jika hamba tersebut mengangkat tangannya kepada-Nya, lalu Allah mengembalikannya dalam keadaan hampa.” HR. Abu Daud no. 1488.


Keduabelas: Dalil yang menyatakan bahwa Allah turun ke langit dunia di setiap malam.

Semua orang sudah mengetahui bahwa yang namanya turun adalah dari atas ke bawah. Hal ini sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari no. 1145 dan Imam Muslim no. 758

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kami –Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malamnya ke langit dunia. Hingga ketika tersisa sepertiga malam terakhir, Allah berfirman, ‘Siapa saja yang berdo’a pada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya. Siapa saja yang meminta pada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Siapa saja yang memohon ampunan pada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya’.


Ketigabelas: Isyarat dengan menunjuk ke langit yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Muslim [1218] hadits yang cukup panjang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika manusia berkumpul dengan jumlah yang amat banyak, di hari yang mulia dan di tempat yang mulia (yakni ketika haji wada').

قَالُوا نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ. فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ « اللَّهُمَّ اشْهَدِ اللَّهُمَّ اشْهَدْ ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ


Mereka yang hadir berkata, “Kami benar-benar bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, menunaikan dan menyampaikan nasehat.” Sambil beliau berisyarat dengan jari telunjuknya yang diarahkan ke langit lalu beliau berkata pada manusia, “Ya Allah, saksikanlah (beliau menyebutnya tiga kali).


Keempatbelas: Dalil yang menanyakan أَيْنَ اللَّهُ (di mana Allah?).

Contohnya dalil dari hadits Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulamiy dengan lafazh dari Muslim, “Saya memiliki seorang budak yang biasa mengembalakan kambingku sebelum di daerah antara Uhud dan Al Jawaniyyah (daerah di dekat Uhud, utara Madinah, pen). Lalu pada suatu hari dia berbuat suatu kesalahan, dia pergi membawa seekor kambing. Saya adalah manusia, yang tentu juga bisa timbul marah. Lantas aku menamparnya, lalu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkara ini masih mengkhawatirkanku. Aku lantas berbicara pada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah aku harus membebaskan budakku ini?” “Bawa dia padaku,” beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berujar. Kemudian aku segera membawanya menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya pada budakku ini,

أَيْنَ اللَّهُ
“Di mana Allah?”

Dia menjawab,
فِى السَّمَاءِ

“Di atas langit.”
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Siapa saya?” Budakku menjawab, “Engkau adalah Rasulullah (utusan Allah).” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

“Merdekakanlah dia karena dia adalah seorang mukmin.” HR Muslim [537], Abu Daud [3282], dan selainnya.

Adz Dzahabi mengatakan, “Inilah pendapat kami bahwa siapa saja yang ditanyakan di mana Allah, maka akan dibayangkan dengan fitrohnya bahwa Allah di atas langit. Jadi dalam riwayat ini ada dua permasalahan: Pertama: Diperbolehkannya seseorang menanyakan, “Di manakah Allah?” dan Kedua: Orang yang ditanya harus menjawab, “Di atas langit”.” Lantas Adz Dzahabi mengatakan, “Barangsiapa mengingkari dua permasalah ini berarti dia telah menyalahkan Musthofa (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Mukhtashor Al ‘Uluw hal 81


Kelimabelas: Dalil yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenarkan orang yang menyatakan bahwa Rabbnya di atas langit dan beliau menyatakan orang tersebut beriman. Contohnya adalah sebagaimana hadits Jariyah yang disebutkan pada point keempatbelas.


Keenambelas: Dalil yang menyatakan bahwa Allah menceritakan tentang Fir’aun yang mengingkari keyakinan Nabi Musa mengenai keberadaan Allah di atas langit, dengan cara ia (Fir'aun) ingin naik ke langit untuk membuktikan lalu memberitahu dengan mengejek/mendustakan Musa dan kaumnya bahwa diatas langit tidak ada Tuhannya Musa. 
Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ (36) أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ  إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا و كَذلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَ صُدَّ عَنِ السَّبيلِ وَ ما كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلاَّ في تَبابٍ

“Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta. Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’un itu tidak lain hanyalah membawa kerugian.”. (QS. Ghafir/Al Mu’min: 36-37)

Ibnu Abil ‘Izz mengatakan, “Mereka jahmiyah yang mendustakan ketinggian Dzat Allah di atas langit, mereka senyatanya adalah pengikut Fir’aun. Sedangkan yang menetapkan ketinggian Dzat Allah di atas langit, merekalah pengikut Musa dan pengikut Muhammad.” Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah


Ketujuhbelas: Berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menceritakan bahwa beliau bolak-balik menemui Nabi Musa ‘alaihis salam dan Allah, ketika peristiwa Isro’ Mi’roj. Ketika itu beliau meminta agar shalat menjadi diperingan. Beliau pun naik menghadap Allah dan balik kembali kepada Musa berulang kali. (HR Bukhari Muslim).
Peristiwa Isro’ Mi’roj ini secara jelas menunjukkan Allah itu di atas.


Kedelapanbelas: Berbagai macam dalil Al Qur’an dan As Sunnah yang menunjukkan bahwa penduduk surga kelak akan melihat Allah Ta’ala dan Allah berada di atas mereka.
Semisal hadis:

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَ تَضَامُّوْنَ فِي رُؤْيَتِهِ

"Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini (dalam permulaan hadits, diceritakan; waktu itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang melihat bulan yang tengah purnama). Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihatNya (ada yang membaca la tudhamuna tanpa tasydid dan di dhammah ta’nya, artinya: kalian tidak akan ditimpa kesulitan dalam melihatNya)" HR. Bukhori [7434] dan Muslim [1432].



Kesembilanbelas: Dalil yang mensifati Allah dengan Adz Dzaahir

هُوَ اْلأَوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Hadid: 3)
Makna Adz Dzoohir ditafsirkan dalam hadis "Ya Allah Engkaulah Al-Awwal yg tiada sesuatu sebelum-Mu dan Engkaulah Al-Akhir yg tiada sesuatu setelah-Mu Engkaulah Yang Zhahir Yang tiada sesuatu di atas-Mu dan Engkau Al-Bathin tiada yg lbh dekat dari-Mu sesuatupun" HR Muslim no. 2713

Alhamdulillahi Rabbil 'Alamiin, dalil-dalil lainnya dari Para Rasul dan Sahabat Nabi bisa anda baca pada link tersebut.



Referensi:
Alqur'anul Kariim
Syarhu Al-Aqidah Ath Thohawiyah Al Imam Ibnu Abil 'Izz, tahqiq Yasin Al 'Adany hal 359-369
Al Iqtishod fi Al-I'tiqod Abdul Ghony Almaqdisi tahqiq Dr.Ahmad bin 'Athiyah Al-Gomidy hal 80-82
Fathu Robbi A-Bariyah Bi Talkhishi Al-Hamawiyah Bab ke-8
Syarhu Al-Qoshidah An Nuniyyah Pensyarah Dr.Kholil Harras hal 198-228 cet.Darul Kutub Beirut
http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2958-di-manakah-allah-2.html
dan lain-lain