Pedoman Bila Mimpi Bertemu Rasulullah






Sering kita dengar ada sebagian orang yang bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ini tidak ragu lagi adalah haq (benar). Namun perlu dilihat, apakah hal ini secara mutlak demikian? Artinya apakah setiap orang yang melihat mimpi dan di dalamnya ada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, harus kita benarkan (dipercayai) begitu saja tanpa melihat beberapa pedoman untuk menilai pengakuannya itu?

Tidak ragu lagu bahwa hal itu tentunya harus dinilai dengan patokan yang akurat. Dan patokan tersebut justru ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri.

Dalam Shahih Al-Bukhari, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang melihatku dalam tidurnya, berarti dia sungguh telah melihatku. Karena sesungguhnya syaithan tidak dapat menyerupaiku. Dan mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari 46 bagian Nubuwwah (kenabian).”

Juga beliau riwayatkan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Siapa yang melihatku dalam tidurnya, maka dia akan melihatku dalam keadaan jaga (tidak tidur), dan syaithan tidak bisa menyerupaiku.”

Al-Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Siapa yang melihatku dalam tidurnya, maka sungguh dia telah melihatku, karena sesungguhnya syaithan tidak pantas menyerupaiku.”

Maka siapapun yang memperhatikan hadits-hadits ini, tentu akan menemukan beberapa hal. Di antaranya:1. Shahih (benarnya) mimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam tidur. Sehingga kalau ada seseorang yang datang kepadamu mengatakan bahwa dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (dalam mimpi), maka jangan kau dustakan.

2. Mimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak terbatas pada orang-orang shalih saja. Bahkan ahli maksiat juga bisa melihatnya, karena hadits-hadits tersebut tidak dikhususkan oleh apapun, bahkan diriwayatkan secara umum. Sebab itulah, Al-Imam An-Nawawi mengatakan bahwa mimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlaku untuk orang yang shalih dan yang selain mereka.

3. Syaithan tidak mungkin menyerupai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ini merupakan kesempurnaan pemeliharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

4. Seharusnya seseorang memahami sifat-sifat fisik Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar dapat mengenal dengan tepat, apakah betul yang dilihatnya adalah betul atau bukan. Karena syaithan sangat ahli berdusta, namun dia tidak mampu menyerupai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Maka selanjutnya, jika datang seseorang dan mengatakan bahwa dia mimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kita katakan kepadanya: “Ya. Tapi coba terangkan ciri-ciri (keadaannya) kepada kami.” Kalau dia mengatakan: “Saya melihat seorang laki-laki yang pakaiannya menyapu tanah, tidak mempunyai jenggot, di tangannya tergantung untaian biji-biji tasbih yang panjang.” Maka kita katakan kepadanya: “Ini bukan mimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi syaithan.” Karena syaithan tidak akan mampu datang dengan bentuk dan perawakan beliau yang telah diterangkan oleh nash-nash As-Sunnah yang sudah dikenal, bahwasanya keadaan atau ciri-ciri fisik Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam demikian.. demikian. Jenggotnya demikian, pakaiannya demikian dan demikian.

Maka jika yang datang justru bertolak belakang atau berbeda dengan ciri-ciri beliau ini, ketahuilah bahwa itu bukan mimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Penulis Fathul Mun’im mengatakan: “Akan tetapi ciri-ciri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam perlu dikenal, karena syaithan berusaha menipu manusia dengan berbagai cara. Kadang dia menampakkan diri kepada seseorang seakan-akan dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal tidak. Dan ini adalah tipuan syaithan. Tidak ada gunanya ucapan orang yang ada di dalam mimpi: “Saya adalah Rasulullah.” Atau ucapan orang yang dilihatnya bersama sosok itu di dalam mimpi: “Ini Rasulullah.” Karena syaithan mampu berdusta untuk dirinya atau untuk orang lain. Dan sudah banya manusia yang tersesat dalam masalah ini, terutama dari kalangan kaum tarekat sufiah atau sejenisnya, semoga Allah melindungi kita.

Di sini akan kami uraikan sebagian dari ciri-ciri atau sifat-sifat fisik Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar dikenal oleh orang yang melihat beliau dalam tidurnya, apakah dia benar-benar melihatnya, atau itu hanya tipuan syaithan.



Ciri-ciri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
1. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam seorang laki-laki yang berperawakan sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek.
2. Dadanya bidang.
3. Tidak terlalu jangkung atau terlalu pendek.
4. Tidak terlalu putih bule atau terlalu coklat (sawo matang), tapi antara keduanya.
5. Cerah warna kulitnya, semu kemerahan, seakan-akan wajah beliau seperti cahaya bulan yang indah.
6. Ukuran persendian tiap ruas tulang beliau cukup besar.
7. Kedua mata beliau lebar.
8. Hitam matanya sangat pekat.
9. Mulutnya lebar, giginya agak jarang dan bagian depan berkilau.
10. Hidungnya bagus.
11. Kedua tangannya besar.
12. Jenggotnya lebar dan tebal.
13. Rambutnya hitam, tidak keriting dan tidak pula terlalu lurus, panjangnya kadang sampai dekat telinganya.  Uban di kepala dan di jenggotnya tidak sampai dua puluh helai.

Wallahu a’lam bish-shawab.